Daging Kambing Ternyata Lebih Sehat dari Anggapan Selama Ini, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Selasa, 03 Februari 2026 | 09:13:04 WIB
Daging Kambing Ternyata Lebih Sehat dari Anggapan Selama Ini, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JAKARTA - Selama bertahun-tahun, daging kambing kerap mendapat stigma negatif di tengah masyarakat.

Aroma khasnya dianggap menyengat, rasanya dinilai terlalu “berat”, bahkan sering dikaitkan dengan anggapan bisa memicu tekanan darah tinggi. Tak sedikit orang yang langsung menghindari daging kambing karena takut dampak buruk bagi kesehatan, khususnya bagi penderita hipertensi.

Namun, pandangan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat. Di balik berbagai mitos yang beredar, daging kambing justru memiliki sejumlah keunggulan gizi yang kerap luput dari perhatian. Dengan pengolahan yang tepat dan pola konsumsi yang bijak, daging kambing dapat menjadi sumber protein hewani yang aman dan bernutrisi.

Guru Besar Bidang Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Ronny Rachman Noor, menegaskan bahwa daging kambing aman dikonsumsi selama tidak berlebihan serta memperhatikan cara memasak dan penyajiannya. Penjelasan ilmiah ini sekaligus meluruskan berbagai kesalahpahaman yang selama ini melekat pada daging kambing.

Daging Kambing Aman Dikonsumsi dengan Cara yang Tepat

Menurut Prof. Ronny Rachman Noor, konsumsi daging kambing pada dasarnya tidak berbahaya bagi kesehatan. Kunci utamanya terletak pada pemilihan bagian daging serta metode pengolahannya. Ia menyarankan agar konsumen memilih daging kambing yang tidak mengandung lemak berlebihan.

“Sebelum dimasak, dianjurkan untuk membuang lemak yang menempel pada daging guna memastikan kandungan lemak seminimal mungkin,” kata Ronny.

Selain itu, proses pembumbuan juga perlu diperhatikan. Ronny menyarankan penggunaan bumbu dan herbal dengan kandungan sodium rendah agar tidak menambah risiko kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi. Untuk metode memasak, memanggang, membakar, atau merebus menjadi pilihan yang lebih disarankan.

“Alangkah baiknya menghindari menggoreng daging kambing. Selain itu, gunakan resep yang memadukan daging kambing dengan sayuran dan biji-bijian utuh agar gizi yang dihasilkan lebih seimbang,” tambahnya.

Mitos Daging Kambing Picu Hipertensi Tak Didukung Ilmiah

Salah satu mitos yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa daging kambing bersifat “panas” dan dapat memicu hipertensi. Ronny menegaskan bahwa keyakinan tersebut lebih bersandar pada kepercayaan turun-temurun dan tidak didukung oleh data ilmiah.

Secara ilmiah, daging kambing tidak berbeda dengan daging merah lainnya dalam kaitannya dengan tekanan darah. Faktanya, hipertensi lebih sering dipicu oleh pola makan yang tidak seimbang, konsumsi lemak jenuh berlebihan, serta cara pengolahan makanan yang kurang sehat.

Risiko peningkatan tekanan darah justru muncul dari penyajian daging kambing yang digoreng, diberi garam berlebihan, atau disajikan bersama saus tinggi lemak. Oleh karena itu, bukan jenis dagingnya yang menjadi masalah utama, melainkan pola konsumsinya.

Kandungan Gizi Chevon Lebih Unggul Dibanding Daging Merah Lain

Daging kambing yang dikenal dengan sebutan chevon memiliki profil gizi yang relatif lebih baik dibandingkan daging sapi dan daging domba. Chevon mengandung lemak total yang lebih rendah, kepadatan protein yang lebih tinggi, serta profil kolesterol yang lebih baik.

Selain itu, chevon juga memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih sedikit dibandingkan daging merah lainnya. Hal ini membuatnya lebih ramah bagi kesehatan jantung jika dikonsumsi secara moderat. Daging kambing juga kaya akan zat besi dan protein yang berperan penting dalam mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan.

Nilai gizi daging kambing turut dipengaruhi oleh jenis ternak, faktor genetik, serta manajemen pemeliharaannya. Ternak yang digembalakan umumnya menghasilkan daging yang lebih sehat dengan kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang lebih rendah dibandingkan ternak dari sistem penggemukan intensif.

Kandungan Kolesterol Daging Kambing Masih Tergolong Moderat

Ronny tidak menampik bahwa daging kambing tetap mengandung kolesterol. Namun, jumlahnya tergolong moderat dan bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan daging sapi dan daging domba.

“Jadi, jika daging kambing dikonsumsi secara tidak berlebihan, tidak akan meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol secara drastis,” ujar Ronny.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dengan pola makan yang seimbang dan moderat, konsumsi daging kambing tidak memengaruhi tekanan darah maupun profil lemak pada individu dengan hipertensi ringan. Temuan ini memperkuat anggapan bahwa daging kambing bukanlah penyebab langsung hipertensi.

Bagi pengidap hipertensi, yang perlu dibatasi justru konsumsi daging merah olahan dengan kandungan lemak jenuh tinggi. Dalam konteks ini, daging kambing yang diolah secara rendah lemak dapat menjadi alternatif yang lebih baik dibandingkan jenis daging merah lainnya.

Metode Penyajian Jadi Faktor Penentu Risiko Kesehatan

Dalam memahami hubungan antara daging kambing dan hipertensi, metode penyajian memegang peranan yang sangat krusial. Ronny menekankan bahwa cara memasak dapat mengubah bahan pangan sehat menjadi berisiko jika dilakukan secara tidak tepat.

“Menggoreng atau memasak dengan garam, mentega, atau saus berlemak yang berlebihan dapat mengubah daging yang sehat menjadi bahan makanan yang berisiko hipertensi,” ucap Ronny.

Selain metode memasak, porsi konsumsi juga harus diperhatikan. Mengonsumsi daging merah secara berlebihan, termasuk daging kambing, dapat memberikan tekanan pada sistem kardiovaskular. Oleh karena itu, jumlah konsumsi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Bagi orang dengan hipertensi atau penyakit kardiovaskular, pemantauan asupan daging merah menjadi langkah penting. Dengan pengolahan yang tepat, porsi yang terkontrol, serta kombinasi dengan sayur dan biji-bijian, daging kambing justru dapat menjadi bagian dari pola makan sehat yang seimbang.

Terkini