Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat, 6 Maret 2026

Jumat, 06 Maret 2026 | 12:37:59 WIB
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat, 6 Maret 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal Maret 2026. 

Mata uang Garuda diperkirakan masih berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat seiring berbagai sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan. Kondisi geopolitik internasional hingga dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor yang turut membayangi pergerakan rupiah.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah dan menunjukkan kecenderungan depresiasi. Tekanan terhadap mata uang domestik ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian global. Sejumlah analis menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.

Di sisi lain, faktor domestik seperti stabilitas ekonomi nasional dan respons kebijakan Bank Indonesia juga menjadi pertimbangan penting dalam menjaga pergerakan nilai tukar tetap terkendali. Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut diperkirakan akan menentukan arah rupiah sepanjang hari ini.

Rupiah Ditutup Melemah pada Perdagangan Sebelumnya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan mengalami pelemahan atau depresiasi pada hari ini, Jumat, 6 Maret 2026.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke level Rp16.905 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis, 5 Maret 2026. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat 0,28% ke level 99,04.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Penguatan dolar AS umumnya berdampak pada pelemahan mata uang lain karena investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman.

Selain itu, pergerakan pasar global yang dipengaruhi berbagai faktor ekonomi dan geopolitik juga turut membentuk sentimen terhadap mata uang di kawasan Asia.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.900-Rp16.940 per dolar AS pada hari ini.

Ibrahim menuturkan sejumlah sentimen yang membayangi gerak rupiah. Salah satunya, tensi geopolitik di Timur Tengah yang memanas.

Ketegangan geopolitik tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar global. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman, seperti dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang mengalami tekanan.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini juga diperkirakan masih akan mengikuti perkembangan sentimen global yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Ketegangan Timur Tengah Menjadi Sentimen Global

Tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan global.

Hal itu terjadi setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi, menyebabkan jutaan penduduk berlindung di tempat perlindungan bom saat konflik memasuki hari keenam dan hanya beberapa jam setelah upaya untuk menghentikan serangan udara AS diblokir di Washington DC, AS.

Pada Rabu, sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka, menewaskan sedikitnya 80 orang, dan pertahanan udara NATO menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki.

Pasukan Iran telah menyerang kapal tanker minyak di atau dekat Selat Hormuz.

Ledakan dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait, menurut Operasi Perdagangan Maritim Inggris.

Eskalasi tersebut terjadi ketika putra Khamenei yang telah tewas muncul sebagai kandidat terdepan untuk menggantikannya.

Ketegangan geopolitik seperti ini biasanya memberikan dampak langsung terhadap pergerakan pasar global, termasuk pasar mata uang. Investor cenderung mengantisipasi risiko yang lebih besar sehingga volatilitas pasar meningkat.

Kebijakan AS dan Faktor Domestik Ikut Mempengaruhi

Dalam perkembangan lain, Presiden ASDonald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, sebuah langkah yang dipandang ramah terhadap penurunan suku bunga oleh pasar.

Perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat selalu menjadi perhatian investor global karena berpengaruh terhadap aliran modal internasional. Harapan penurunan suku bunga, misalnya, dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap dolar AS maupun mata uang lainnya.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia merespons penilaian lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada BBB dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negative.

Afirmasi rating Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat.

Selain itu, penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia.

Kemudian, stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah.

Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang meluas, ditopang oleh infrastruktur yang stabil, dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid dan menunjukkan tren meningkat, didukung oleh inflasi yang terkendali.

Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7% dan meningkat pada 2027, dengan inflasi yang tetap terkendali sesuai sasaran target.

Terkini