Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 30 Maret 2026

Senin, 30 Maret 2026 | 11:01:43 WIB
Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 30 Maret 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar pada awal pekan ini. 

Hingga Senin, 30 Maret 2026, rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring berbagai sentimen global yang belum mereda. Tekanan ini tidak hanya berasal dari faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati, terutama dalam merespons potensi penguatan dolar AS yang dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Proyeksi Rupiah Masih Melemah Pekan Ini

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa rupiah masih akan melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa hari ke depan. Menurutnya, ada kecenderungan kuat bahwa indeks dolar AS akan terus menguat.

“Range rupiah dalam satu minggu ke depan adalah Rp16.880-Rp17.100 per dolar AS,” kata Ibrahim.

Sementara itu, lanjutnya, indeks dolar diperkirakan masih akan diperdagangkan di rentang 99.300 sampai 101.600. Proyeksi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup besar, terutama jika penguatan dolar terus berlanjut.

Dengan rentang tersebut, rupiah bahkan berpotensi menyentuh level psikologis Rp17.100 per dolar AS, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Geopolitik Timur Tengah Jadi Sentimen Utama

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang global adalah kondisi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut memberikan dampak langsung terhadap pasar keuangan, termasuk nilai tukar.

Sejumlah sentimen bagi pergerakan mata uang dan komoditas pekan ini menurutnya akan datang dari kondisi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas, terutama mengenai pembatasan transportasi di Selat Hormuz.

Selain itu, terdapat sentimen mengenai penyerangan yang ditunda AS selama 7 hari terhadap pulau-pulau di Selat Hormuz.

“Perang pun juga masih terus terjadi dan wilayah-wilayah basis Amerika yang ada di Timur Tengah, yaitu di Irak, di Uni Emirat Arab, di Arab Saudi, itu pun juga dibombardir,” tuturnya.

Kondisi ini memperkuat ketidakpastian global yang pada akhirnya mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven, termasuk dolar AS.

Konflik dan Kepentingan Politik Global Memanas

Lebih lanjut, Ibrahim juga menyoroti dinamika konflik yang melibatkan sejumlah negara besar di kawasan tersebut. Ia melihat adanya strategi Iran untuk menyerang Israel, dengan Israel yang juga terus melakukan penyerangan.

Di sisi lain, upaya perdamaian yang diprakarsai oleh Pakistan dinilai belum memberikan hasil yang signifikan karena sifatnya masih sepihak.

“Iran tetap menginginkan perjanjian yang menguntungkan bagi Iran sendiri karena Iran merasa diserang terlebih dulu oleh Israel dan Amerika, yang akhirnya membuat pemimpin ulama Syiah dan pejabat-pejabat lainnya terbunuh,” kata dia.

Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya bersifat regional, tetapi juga melibatkan kepentingan global yang lebih luas. Hal tersebut turut memengaruhi stabilitas pasar keuangan internasional.

Arah Kebijakan The Fed dan Politik AS Jadi Perhatian

Di luar faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama. Ibrahim memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mengalami perubahan arah kepemimpinan dalam waktu dekat.

Ia menilai Kevin Warsh berpotensi menjabat sebagai Ketua The Fed pada April ini, dengan kebijakan baru yang kemungkinan diumumkan pada Mei.

Ibrahim memperkirakan Federal Reserve (The Fed) di bawah Warsh akan mengikuti langkah Donald Trump untuk menurunkan suku bunga.

“Saya optimistis meskipun inflasi tinggi, kemungkinan besar bank sentral AS akan menurunkan suku bunga di bawah kepemimpinan Kevin Warsh,” ucapnya.

Selain itu, dinamika politik di AS juga menjadi faktor tambahan. Saat ini, Amerika Serikat tengah memasuki masa pemilu sela, dengan Partai Demokrat yang kemungkinan akan memenangkan pemilu ini.

Apabila hal ini terjadi, maka kepemimpinan Trump kemungkinan besar akan diuji, sehingga bisa saja terjadi pemakzulan seperti pada periode pertama Trump sebagai Presiden AS.

Kombinasi antara faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan dinamika politik global membuat pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan dalam waktu dekat.

Terkini