Jakarta - Daewoong Pharmaceutical Indonesia menjalin kolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) guna menggarisbawahi urgensi penguatan kesadaran masyarakat atas penyakit kardiovaskular, layaknya angin duduk.
Lewat agenda diskusi edukasi media di Jakarta pada Selasa, pihak Daewoong bersama PERKI memberikan pengertian bahwa angin duduk, yang selama ini sering dinilai sebagai gejala masuk angin biasa, sebenarnya dapat menjadi indikasi awal dari angina pektoris.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang tergabung dalam PERKI, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, memaparkan bahwa angina pektoris ialah suatu keadaan di mana otot jantung tidak memperoleh suplai darah serta oksigen secara memadai.
Terlebih jika rasa nyeri terasanya seperti dihimpit pada area tengah dada, merembet hingga ke rahang atau bagian lengan, atau bahkan timbul ketika sedang rehat, keadaan itu bisa menjadi sinyal peringatan terjadinya angina tidak stabil ataupun infark miokard akut.
"Jika dibiarkan hingga pembuluh darah benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berujung langsung pada infark miokard akut atau kematian mendadak. Pasien perlu segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan memulai pengobatan yang sesuai,” kata Febtusia.
Daewoong beserta PERKI menitikberatkan pentingnya pergeseran pemahaman publik supaya tanda-tanda nyeri dada layaknya angin duduk tidak sekadar dipandang sebagai pegal-pegal, rasa lelah, atau masuk angin biasa, melainkan diartikan sebagai isyarat untuk selekasnya melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Di sisi lain, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia dr. Wicak Prasetiadi mengutarakan bahwa kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) bertindak sebagai salah satu faktor pemicu utama angina.
Terkait perkara tersebut, manajemen ketat terhadap kadar LDL-C, yang jamak disebut kolesterol jahat, sampai berada di bawah angka 55 mg/dL bernilai penting demi membantu proses pengontrolannya, contohnya melalui metode berbasis perpaduan statin dan ezetimibe yang dapat dijadikan opsi.
“Pendekatan ini bekerja dengan menghambat sintesis kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapan kolesterol di usus," ujar dr. Wicak.