Harga Keekonomian Pertamax Tembus Rp 19.200 per Liter

Senin, 15 Juni 2026 | 01:09:31 WIB
Penyesuaian harga BBM jenis Pertamax terus disorot [FOTO : NET].

JAKARTA - Langkah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax terus memicu perhatian. Di tengah pergerakan tren kenaikan harga komoditas energi global, nilai pasar atau harga keekonomian produk RON 92 tersebut diprediksi telah membumbung tinggi melampaui harga jual yang ditetapkan saat ini.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo menjelaskan bahwa perhitungan formulasi harga keekonomian Pertamax dipengaruhi oleh volatilitas harga minyak mentah dunia serta depresiasi nilai tukar rupiah. 

Melalui sejumlah indikator makro tersebut, harga riil bahan bakar non-subsidi produksi PT Pertamina (Persero) ini sebenarnya telah menembus angka di level belasan ribu rupiah.

"Dengan beberapa asumsi sebagai berikut, harga minyak diambil rata-rata US$ 100/barell, rendemen atau yield 0,6, kurs Rp 17.800/US$. Akan di peroleh angka keekonomian Rp 18.700. Jika ditambah dengan biaya distribusi (distributions cost) Rp 500 per liter. Maka Total Harga Keekonomian (Pertamax) adalah Rp 19.200," ujarnya, Senin (15/6/2026).

Dengan kenaikan harga Pertamax dari semula Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, posisi harga jual saat ini dipandang masih berada di bawah nilai wajar pasar. 

Selisih harga yang cukup lebar ini kemudian menciptakan konsekuensi, di mana beban selisih nilai tersebut masih harus dipikul oleh badan usaha milik negara maupun kas negara.

"Harga Pertamax Rp 12.300, aslinya, kemudian di naikkan menjadi Rp 16.250. Pemerintah atau Pertamina masih menangggung Rp 19.200 dikurang Rp 16.250 sama dengan Rp 2.950 per liter. Pertamina butuh cash flow dan berat sekali kalau harus nalangin terus, karena belum ada arahan jelas pemerintah, apakah akan bisa di reimburse ke pemerintah?" ungkapnya.

Guna menyiasati beban finansial yang terus menumpuk akibat ketergantungan pada komoditas fosil, Hadi mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis yang konkret.

 Menurutnya, pemerintah harus mempercepat program diversifikasi energi ke sektor domestik sebagai jalan keluar jangka panjang demi meredam tekanan likuiditas di masa depan.

"Percepat konversi BBM te gas dan BBM ke listrik," jelasnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Dwi Anggia mengatakan, jika membandingkan dengan negara tetangga, sejatinya harga jual BBM jenis RON 92 cukup tinggi dibandingkan harga di dalam negeri.

"Berbicara harga keekonomian untuk BBM non-subsidi khususnya RON 92, kalau kami melihat negara tetangga itu di angka Rp 20.000-Rp 21.000 (per liter)," ujar saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/6/2026).

Dengan demikian, Dwi mengungkapkan, harga Pertamax yang dibanderol saat ini pascapenyesuaian, pada dasarnya masih jauh di bawah dari harga jual di negara tetangga.

"Jadi kenaikan atau penyesuaian yang dilakukan sekarang ini sebenarnya masih jauh di bawah harga keekonomian. Namun ini adalah pilihan terbaik, jalan tengah, agar dua-duanya bisa survive. Ketersediaan energi jangka panjang ada, masyarakat juga tidak disulitkan, daya beli masyarakat tetap terjaga," tandasnya.

Terkini