Lotte Chemical Indonesia Raih Pinjaman Rp5,28 Triliun dari Induk Korea

Senin, 15 Juni 2026 | 03:31:37 WIB
PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) [FOTO : NET].

JAKARTA - Perusahaan PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) memperoleh kucuran pinjaman tunai senilai KRW451,74 miliar atau setara berkisar Rp5,28 triliun (dengan estimasi nilai kurs Rp11,68 per won) dari pihak pemegang sahamnya yang berbasis di Korea Selatan, yakni Lotte Chemical Corporation (LCC). Informasi ini disiarkan oleh perusahaan induk LCI, Lotte Chemical Titan Holding Berhad (LCT), lewat otoritas Bursa Malaysia, dikutip Senin (15/6/2026).

Pemberian fasilitas pinjaman yang mengikat kontrak mulai 12 Juni 2026 hingga 20 Desember 2036 tersebut disasarkan guna menyokong proses penyelesaian kewajiban fasilitas pinjaman yang didekap LCI, termasuk di antaranya pinjaman dari Export Credit Agency (ECA), sekaligus untuk menyokong kebutuhan tata kelola likuiditas keuangan LCI. 

Langkah pelunasan pokok pinjaman bakal dilangsungkan secara berkala dalam kurun waktu 6 tahun yang dimulai pada 2031, seusai melewati masa tenggang (grace period) di sepanjang 5 tahun, dengan acuan tingkat suku bunga di posisi 1-year Secured Overnight Financing Rate (SOFR) + 1,45%.

Adapun, pihak LCT serta LCC masing-masing mendekap porsi kepemilikan saham di LCI sebesar 51% dan 24%, sementara sisa porsi 25% lainnya dikuasai oleh sejumlah korporasi sekuritas.

 Kendati demikian, transaksi pinjaman dana ini tidak dimasukkan ke dalam kategori transaksi dengan pihak berelasi merujuk pada regulasi pasar bursa saham Malaysia.

Pada catatan dinamika lainnya, di periode April 2026, LCI sempat memperoleh pasokan bahan baku nafta yang dipasok dari entitas internal grup usahanya di wilayah Malaysia, yaitu Lotte Chemical Titan Sdn Bhd (LCTM), menyusul terjadinya kendala arus pasokan dari kawasan Timur Tengah.

 Bersandarkan data keterbukaan informasi di pasar Bursa Malaysia, dikutip Rabu (22/4/2026), agenda transaksi tersebut dijalankan dengan tujuan memitigasi potensi risiko operasional sekaligus menjamin keberlanjutan ketersediaan pasokan bahan baku pasca-pecahnya konflik bersenjata yang melibatkan kubu Amerika Serikat-Israel dengan Iran, serta imbas ditutupnya jalur Selat Hormuz.

Akumulasi nilai total dari kontrak kerja sama jual beli nafta dimaksud menyentuh angka US$25,29 juta atau berkisar Rp433,55 miliar (menggunakan asumsi kurs senilai Rp17.140 per US$).

 Sebelumnya, pihak LCI memaparkan bahwa instansinya sedang didera problem kelangkaan pasokan bahan baku, terkhusus komoditas nafta serta LPG, sebagai imbas ekor dari konflik di Timur Tengah. 

Kondisi ini mencuat lantaran LCI menggantungkan ketersediaan pasokan bahan bakunya hampir seutuhnya dari wilayah tersebut. Konsekuensinya, pihak Perseroan pun terpaksa memangkas volume produksinya demi menjaga kontinuitas proses manufaktur.

"LCI hingga saat ini masih beroperasi. Namun, dengan menurunkan tingkat produksinya dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada. Kami mengevaluasi setiap hari untuk memastikan situasi terkini yang transparan seiring berkembangnya kondisi,” ujar Direktur Management Support LCI Cho Jin-woo melalui keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

Pada kesempatan di forum terpisah, Corporate Planning General Manager LCI Lee Dae-lo bahkan sempat mengutarakan bahwa pihak perusahaan sekadar sanggup mempertahankan kelancaran roda operasional hingga sebelum memasuki pertengahan tahun ini jikalau tidak secepatnya memperoleh pasokan komoditas bahan baku.

“Tetapi setelah itu, kami tidak dapat beroperasi secara berkelanjutan," kata Lee pada acara LCI Media Gathering 2026 di bilangan SCBD, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Terkini