Mengenal Perbedaan Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan SNT

Selasa, 16 Juni 2026 | 07:01:07 WIB
Sekolah Rakyat, Garuda, dan SNT [FOTO : NET].

JAKARTA - Pemerintah tengah gencar meluncurkan sejumlah program pendidikan: Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Selain Sekolah Rakyat yang lebih dulu diperkenalkan sebagai sekolah berasrama bagi anak dari keluarga miskin, juga telah hadir Sekolah Garuda. 

Terbaru, pemerintah menargetkan pembangunan 100 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang disebut sebagai sekolah unggulan non-asrama dan akan tersebar di berbagai daerah. 

Meski sama-sama mengusung tujuan meningkatkan kualitas pendidikan, ketiga program tersebut sebenarnya lahir untuk menjawab persoalan yang berbeda.

SNT untuk ekonomi pas-pasan 

Presiden Prabowo Subianto membuat Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) untuk anak-anak yang berasal dari keluarga kelas ekonomi hampir miskin, pas-pasan, dan cukup. 

Menurut Prabowo, anak-anak dari kelas ekonomi tersebut berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dari pemerintah.

"Mereka tidak miskin ekstrem, tapi mereka juga susah. Mereka harus dapat akses kepada pendidikan," kata Prabowo dikutip dari akun YouTube Setpres, Rabu (22/10/2025).

 Meski fasilitas sama dengan Sekolah Rakyat, Prabowo menegaskan Sekolah Integrasi nantinya tidak menerapkan sistem asrama dan anak-anak tetap pulang ke rumah masing-masing usai sekolah. 

Maka dari itu, pemerintah menyediakan bus antar-jemput untuk anak-anak tersebut. Program ini lahir dari persoalan ketimpangan mutu pendidikan antarwilayah yang masih terjadi hingga kini. Fokus utama SNT bukan pada afirmasi sosial maupun pengembangan talenta elite, melainkan pemerataan mutu pendidikan.

Target 100 SNT 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkap, pemerintah menargetkan pembangunan 100 Sekolah Nasional di berbagai daerah. 

Pemerintah menargetkan pelaksanaan program dimulai tahun ini melalui pemanfaatan fasilitas yang telah tersedia maupun pembangunan baru. 

"Dan sudah ada usulan-usulan sekolah yang masuk dari 36 yang sudah kami seleksi. Dan tahun ini kami mulai, insyaallah. Lima (sekolah) kami buka di balai-balai yang dimiliki oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kemudian ada satu (sekolah) yang di IKN (Ibu Kota Nusantara), dan kemudian sembilan (sekolah) yang nanti kami bangun baru di daerah yang sudah diseleksi,” jelas Mu'ti.

Sekolah Rakyat untuk siswa miskin 

Program Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama yang seluruh biaya pendidikannya ditanggung negara. 

Program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dengan kata lain, Sekolah Rakyat tidak dirancang untuk mencari siswa paling berprestasi, melainkan memberikan kesempatan kepada kelompok yang paling rentan agar dapat keluar dari lingkaran kemiskinan. 

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menargetkan sebanyak 183 Sekolah Rakyat dapat beroperasi hingga akhir 2026.

Sekolah Garuda untuk siswa unggul

 Jika Sekolah Rakyat berfokus pada kelompok rentan, maka Sekolah Garuda menyasar siswa-siswa berprestasi yang diproyeksikan menjadi talenta unggul Indonesia. Orientasi Sekolah Garuda bukan pada pengentasan kemiskinan, melainkan pengembangan talenta unggul untuk menciptakan sumber daya manusia berdaya saing global. 

Menurut Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, program ini merupakan visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sekolah unggul terintegrasi di setiap kabupaten melalui dua skema: pembangunan sekolah baru dan transformasi sekolah unggulan yang sudah ada.

Terkini