Rupiah Diprediksi Melemah Pekan Depan, Ini Sentimen yang Membayangi

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:00:31 WIB
Sentimen Pasar Bayangi Pergerakan Rupiah yang Rentan Melemah [FOTO : NET].

JAKARTA - Rupiah diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada pekan depan, walau optimisme pelaku pasar sempat meningkat usai Indonesia sukses mempertahankan status sebagai negara berkembang (Emerging Market) dalam tinjauan terkini Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Pada Jumat (19/6/2026), kurs rupiah spot ditutup melemah 0,06% menuju level Rp 17.804 per dolar AS. Selama sepekan, kurs rupiah spot sebenarnya menguat 0,31% dari posisi Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026) lalu. 

Sementara itu, kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia tercatat stagnan di angka Rp 17.826 per dolar AS pada Jumat (19/6/2026). Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor masih mencatatkan penguatan 0,53% dari posisi Rp 17.921 per dolar AS pada Jumat pekan sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi berpendapat, sentimen domestik yang memengaruhi fluktuasi rupiah sepekan terakhir bersumber dari MSCI. Lembaga tersebut menyatakan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review. 

Keputusan ini diambil usai MSCI kembali menyampaikan kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham domestik. Penurunan peringkat ini mencerminkan kurangnya transparansi pada data kepemilikan saham dan aktivitas pasar.

"Kondisi tersebut dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat," ujar Ibrahim, Jumat (19/6/2026).

Selain itu, MSCI turut menyoroti keterbatasan pasar valuta asing Indonesia. Ketiadaan pasar mata uang lepas pantai (offshore) yang efisien serta berbagai pembatasan di pasar valuta asing dalam negeri dinilai masih menjadi kendala bagi investor asing. 

Namun, MSCI mengumumkan posisi Indonesia tetap berada di level negara berkembang atau Emerging Market, karena Indonesia memperoleh sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.

"Hal itu menjadi salah satu faktor MSCI masih mempertahankan Indonesia di kelas negara berkembang, setelah sempat memberikan sinyal penurunan kelas sehingga membuat pasar kembali optimistis arus modal asing akan kembali membanjiri pasar keuangan Indonesia," lanjut Ibrahim.

Dari sisi eksternal, perhatian pasar masih terfokus pada arah kebijakan moneter bank sentral AS. Ibrahim menyoroti bahwa sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun ini. 

Menurutnya, sinyal tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Walau Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir, pernyataan pejabat The Fed dinilai bernada hawkish dan mendorong penguatan dolar AS. 

Kondisi tersebut turut mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan membawa indeks dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari setahun. Alhasil, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih menghadapi tekanan.

Berdasarkan berbagai faktor di atas, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak cenderung melemah dalam rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang pekan depan.

Terkini