Menpar Dorong Kolaborasi Pariwisata Asia di Travel Meet Asia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:53:31 WIB
Menpar Ajak Perkuat Kemitraan Strategis di Travel Meet Asia 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menginisiasi penguatan kolaborasi serta kemitraan strategis bagi para pemangku kepentingan pariwisata regional lewat gelaran Travel Meet Asia 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 23-24 Juni.

Saat membuka Travel Meet Asia 2026 di Swissotel PIK Avenue, Jakarta, Selasa, Widiyanti mengungkapkan sektor pariwisata punya peran krusial dalam menghubungkan komunitas, pelaku bisnis, dan negara di tengah pergerakan global yang terus berubah.

"Lebih dari sekadar pasar, acara ini berfungsi sebagai wadah untuk membangun kemitraan, bertukar ide, dan membentuk masa depan pariwisata di kawasan kami dan sekitarnya," kata Widiyanti menurut siaran resmi Kemenpar yang diterima pada Rabu.

Travel Meet Asia 2026 merupakan bursa pariwisata internasional business-to-business (B2B) yang dihelat oleh Messe Berlin Asia Pacific dengan dukungan ITB Asia dan Association of The Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA).

Ajang tersebut mempertemukan agen perjalanan, operator tur, pelaku industri perhotelan, maskapai penerbangan, serta berbagai pemangku kepentingan pariwisata untuk menggali peluang kerja sama dan memperluas jangkauan pasar.

Tahun ini, Travel Meet Asia diikuti sekitar 1.500 peserta, 500 pembeli (buyers), 100 eksibitor dari 16 negara, serta 60 pembicara.

Widiyanti menyatakan sektor pariwisata global terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data UN Tourism, total kunjungan wisatawan internasional mencapai 1,52 miliar pada 2025 atau melonjak 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Indonesia mencatat kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 10,8 persen pada 2025, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan global.

Pada periode yang sama, sektor pariwisata meraup devisa sebesar 18,27 miliar dolar Amerika Serikat dan menyerap 25,9 juta tenaga kerja.

Menurut Widiyanti, pariwisata juga merupakan sektor inklusif karena mengikutsertakan partisipasi masyarakat luas, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perempuan, serta generasi muda.

Ia menuturkan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan investasi dan kemitraan pada beragam segmen pariwisata, seperti gastronomi, wellness, bahari, budaya, petualangan, serta meetings, incentives, conventions, and exhibitions (MICE).

"Keragaman penawaran ini menciptakan potensi signifikan, tidak hanya peluang investasi dalam infrastruktur dan layanan pariwisata, tetapi juga pengembangan produk dan paket perjalanan yang inovatif, bernilai tinggi, serta sesuai dengan tren global dan permintaan pasar yang terus berkembang," ujarnya.

Pemerintah, lanjut dia, bertekad mewujudkan pariwisata berkualitas melalui bermacam program yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, termasuk pengembangan destinasi dan penguatan ekosistem pariwisata.

Salah satu langkah yang ditempuh yakni pembentukan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata guna menarik investasi serta memacu aktivitas bisnis di sektor tersebut.

Widiyanti menekankan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, masyarakat lokal, investor, hingga mitra internasional.

"Tidak ada satu pun baik pemerintah, bisnis, atau organisasi yang dapat membuka potensi penuh pariwisata secara mandiri. Keberhasilan ini bergantung pada kemitraan yang kuat antara sektor publik, swasta, masyarakat lokal, pelaku industri, investor, dan mitra internasional," katanya.

Ia berharap Travel Meet Asia terus berkembang sebagai salah satu platform kolaborasi bisnis pariwisata utama di kawasan Asia sekaligus memperkokoh daya saing sektor pariwisata regional.

Terkini