Rupiah Anjlok ke Rp18.014 per Dolar AS, Defisit APBN Jadi Pemicu

Rabu, 08 Juli 2026 | 00:56:01 WIB
Rupiah Tembus Rp18.014 per Dolar AS di Tengah Eskalasi Konflik Global [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda di pasar spot terpantau melemah pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026). Mata uang domestik mengalami depresiasi sebesar 34 poin atau terkoreksi 0,19 persen menuju level Rp18.014 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang semester I-2026 mencatatkan defisit senilai Rp196,5 triliun, atau setara dengan 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Akumulasi perolehan pendapatan negara menyentuh Rp1.459,4 triliun, sementara angka pengeluaran atau belanja negara membengkak hingga Rp1.656 triliun. 

Angka defisit tersebut melebar jika disandingkan dengan posisi per Mei 2026 yang berada di kisaran Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap PDB.

Kendati begitu, apabila ditinjau secara tahunan, defisit APBN pada paruh pertama 2026 ini sejatinya masih lebih rendah ketimbang periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh 0,84 persen terhadap PDB.

 Walakin, sejumlah pakar ekonomi menilai tren ini telah menjadi sinyal alarm peringatan dini terkait meningkatnya tekanan pada pos APBN, utamanya jika mengamati pergerakan dinamika fiskal sejak mula tahun.

“Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar rupiah dinilai lebih cepat mendorong kenaikan belanja negara dibandingkan peningkatan penerimaan. Kondisi tersebut pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah,” ujar Ibrahim, Rabu sore ini.

Pada sisi yang lain, Bank Indonesia (BI) merilis data posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 yang merangkak naik menuju 145,6 miliar dolar AS, dari posisi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026. 

Walau mencatatkan pertumbuhan, akumulasi cadangan tersebut posisinya masih berada di dekat jurang level terendah dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Pihak BI menguraikan bahwa kenaikan cadangan devisa ditopang oleh perolehan dari sektor pajak serta jasa, di tengah bergulirnya agenda pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi kurs rupiah yang diambil bank sentral guna merespons tingginya volatilitas di pasar keuangan internasional.

Merujuk pada kalkulasi BI, jumlah cadangan devisa bersangkutan setara dengan pemenuhan kebutuhan 5,5 bulan impor atau mencakup 5,4 bulan impor sekaligus penyelesaian utang luar negeri pemerintah. 

Nominal itu pun berada jauh di atas tolok ukur kecukupan internasional yang dipatok di kisaran tiga bulan impor. 

Oleh sebab itu, kondisi cadangan devisa dinilai masih mumpuni guna menyokong ketahanan lini eksternal serta merawat stabilitas makroekonomi dan struktur keuangan domestik.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mempublikasikan bahwa pihaknya telah melangsungkan rentetan serangan terhadap Iran. 

Agenda operasi militer tersebut diklaim sebagai langkah untuk memberikan “biaya yang berat” atas tindakan Teheran yang menyasar pelayaran komersial. 

Berulangnya eskalasi ketegangan serta meningkatnya hambatan jalur laut di Selat Hormuz kembali memicu kecemasan pelaku pasar atas potensi terganggunya rantai pasok komoditas minyak dari kawasan Timur Tengah.

Aksi gempuran tersebut juga dilancarkan tidak berselang lama setelah pihak Amerika Serikat mencabut konsesi krusial yang sebelumnya membolehkan Iran melego minyak di kancah pasar internasional. 

Kebijakan itu dinilai berpeluang mengetatkan volume pasok minyak global dalam beberapa pekan ke depan.

Iran juga diwartakan melancarkan agresi terhadap armada kapal yang melintasi kawasan Selat Hormuz pada minggu ini. Rentetan insiden tersebut mengeskalasi ketegangan dengan pihak Amerika Serikat sekaligus mempertebal ketidakpastian atas aspek keamanan rute pelayaran strategis tersebut. 

Di sisi lain, memanasnya situasi terbaru ini juga berisiko membuyarkan kans tercapainya kesepakatan gencatan senjata di antara kedua negara dalam kurun waktu dekat.

Aspek lain yang ikut menyita atensi pasar ialah lonjakan tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat. Nilai imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun merangkak naik 5,5 basis poin menuju level 4,525 persen. 

Meski demikian, para pelaku pasar uang memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed pada agenda pertemuan Juli ini masih relatif mini. 

Sementara itu, tingkat probabilitas bagi kenaikan suku bunga di bulan September mengerek naik mendekati angka 60 persen berdasarkan indikator CME FedWatch Tool.

Kini para pelaku pasar mengalihkan fokus perhatian mereka pada dokumen risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) edisi Juni yang dijadwalkan bakal dipublikasikan pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.

 Dokumen bersangkutan diharapkan mampu menyajikan proyeksi yang lebih terang terkait arah kebijakan moneter The Fed, di saat corak komunikasi dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, turut menjadi pusat perhatian dari kalangan investor.

Terkini