Menkes: Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Penting Agar RI Tak Terjebak

Kamis, 09 Juli 2026 | 20:53:31 WIB
Menkes Budi: RI Harus Tumbuh 8 Persen Agar Lolos Jebakan Pendapatan [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bukanlah ambisi pribadi Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut disampaikan Budi saat memberikan taklimat dalam Konferensi Pers TikTok Indonesia, “Makan dengan Makna”. 

Budi menjelaskan, target tersebut harus dicapai agar Indonesia terhindar dari middle income trap atau jebakan pendapatan kelas menengah dalam 15 tahun ke depan, agar tidak bernasib serupa dengan negara-negara di Amerika Latin.

“Energi kami fokusnya ke yang positif, untuk dorong supaya pertumbuhannya tuh 8 persen. Itu bukan karena ambisi Presiden, bukan. Karena kalau kami telat, anak cucu kami seumur hidup negaranya kayak Amerika Latin,” kata Budi di kawasan Gambir, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurut Budi, Indonesia harus mencapai status negara maju pada periode 2030 hingga 2040 karena Indonesia tengah berada di puncak bonus demografi. Suatu negara dikategorikan maju jika memiliki Gross National Income (GNI) per kapita di atas 14.000 dollar AS atau sekitar Rp 15 juta per bulan.

 Sementara itu, pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia saat ini masih di kisaran 5.000 dollar AS atau Rp 5 juta per bulan.

“Jadi kalau semua teman kami, alumni kami, di rumah ada tukang sate, ada tukang parkir, pendapatannya masih di bawah Rp 15 juta, artinya Indonesia belum negara maju,” ujar Budi.

Budi menjelaskan bahwa sejarah dunia menunjukkan negara maju biasanya terbentuk saat puncak bonus demografi, di mana penduduk didominasi usia produktif (15-60 tahun). 

Jika gagal memanfaatkan momentum ini, negara akan terjebak dalam kelas menengah karena penduduk akan didominasi usia non-produktif di atas 60 tahun.

“Pensiunannya sudah lebih banyak dibandingkan yang bekerja. Akibatnya, untuk jadi negara maju untuk menambah GNI per kapita makin susah. Makin susah. Kecuali produktivitasnya makin tinggi,” tutur Budi.

Oleh sebab itu, Indonesia harus memanfaatkan periode emas dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Jika tidak, Indonesia terancam selamanya menjadi negara kelas menengah seperti Thailand dan beberapa negara Eropa Timur. 

Budi menambahkan, kemakmuran suatu negara sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM), yang ditentukan oleh kesehatan dan keahlian. Sebagai Menkes, Budi berkomitmen memastikan masyarakat tetap sehat 

melalui pola hidup dan konsumsi makanan yang baik. Ia pun mengajak para influencer di platform TikTok untuk mengedukasi masyarakat terkait pola makan sehat.

“Jadi tolong dibantu agar teman-teman bisa mengubah perilakunya menjadi memberi contoh perilaku makan masyarakat Indonesia jangan banyak gula, garam, lemak, dan makanlah secukupnya,” ujar Budi. “Bahwa makan sedikit gula, sedikit garam, sedikit lemak dan secukupnya itu cool, itu gaya, itu keren, itu adalah tren,” tambahnya.

Dalam forum tersebut, Head of Public Policy TikTok Indonesia Noudhy Valdryno menyatakan dukungan terhadap kampanye pola makan sehat yang digalakkan Kemenkes, termasuk kemitraan dengan Foodbank of Indonesia. Melalui program Makan dengan Makna, TikTok mendorong konsumsi bahan pangan lokal yang bergizi.

“Harapannya sederhana, agar semakin banyak masyarakat menyadari bahwa pola makan sehat tidak perlu, atau tidak selalu rumit dan mahal. Justru banyak pilihan bergizi yang berasal dari bahan pangan lokal yang dekat dengan keseharian kami,” tutur Noudhy.

Terkini