IPO Prodia Diagnostic Line (PRDL): Pasang Harga Rp100-Rp120 per Saham

IPO Prodia Diagnostic Line (PRDL): Pasang Harga Rp100-Rp120 per Saham
Siap IPO, Prodia Diagnostic Line (PRDL) Incar Dana Rp62,75 Miliar [FOTO : NET].

JAKARTA — PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), perusahaan yang berfokus pada alat kesehatan untuk diagnosis medis, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada Juli 2026.

Prodia Diagnostic Line merupakan entitas di bawah Grup Prodia. Susunan kepemilikan sahamnya terdiri dari PT Prodia Utama sebesar 51%, PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) sebesar 39%, dan Diasys Diagnostic Systems GmbH sebesar 10%.

Berdasarkan prospektus awal, Prodia Diagnostic Line menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru, setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. 

Perseroan menetapkan kisaran harga penawaran di angka Rp100 hingga Rp120 per saham. Dengan rentang harga tersebut, emiten alat kesehatan ini berpotensi meraup dana segar hingga Rp62,75 miliar.

Masa penawaran awal (bookbuilding) berlangsung pada 18–23 Juni 2026. Selanjutnya, perseroan menargetkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbit pada 29 Juni 2026. 

Adapun masa penawaran umum dijadwalkan pada 1–7 Juli 2026, dengan tanggal penjatahan pada 7 Juli 2026. Saham PRDL direncanakan terdistribusi secara elektronik pada 8 Juli 2026, sebelum resmi dicatatkan di BEI pada 9 Juli 2026.

Dalam aksi korporasi ini, PRDL menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Selain itu, perseroan mengadakan program alokasi saham untuk karyawan (Employee Stock Allocation/ESA) sebanyak-banyaknya 36,6 juta saham, atau 7% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO, dengan harga pelaksanaan yang sama dengan harga penawaran perdana.

Penggunaan Dana IPO 

Manajemen PRDL memaparkan bahwa mayoritas dana IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi operasional. 

Sebesar Rp35,67 miliar dialokasikan untuk pelunasan pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.

Sekitar 28,92% dana IPO akan digunakan untuk belanja modal (capital expenditure), termasuk pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan operasional, sistem perangkat lunak, relayout area produksi, serta penambahan Air Handling Unit (AHU) untuk Laboratorium Biomolekuler. 

Sementara itu, 8,51% dana hasil IPO digunakan sebagai modal kerja, seperti pembelian bahan baku, riset dan pengembangan produk, serta aktivitas pemasaran dan penjualan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index