Minim Dosen Doktor, Kemdiktisaintek Buka Jalur Afirmasi di NTT

Minim Dosen Doktor, Kemdiktisaintek Buka Jalur Afirmasi di NTT
Percepat Kualifikasi Akademik, Kemdiktisaintek Buka Beasiswa Dosen NTT [FOTO : NET].

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi membuka jalur afirmasi bagi dosen di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebijakan ini diambil guna mempercepat peningkatan kualifikasi akademik seiring masih rendahnya jumlah tenaga pengajar bergelar doktor di wilayah tersebut.

Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Sri Suning Kusumawardani, dalam keterangannya di Kupang, Jumat, menjelaskan bahwa kementerian telah menyiapkan sejumlah skema beasiswa serta pendampingan khusus bagi dosen di daerah afirmasi dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Melalui program talent scouting dan pra-doktoral, para dosen akan dibantu mencari mentor dan menyusun rencana riset sehingga memiliki kesiapan yang lebih baik untuk melanjutkan studi doktoral di perguruan tinggi terbaik,” katanya dalam sosialisasi Program Beasiswa Dosen dan Tenaga Kependidikan Wilayah NTT.

Berdasarkan data yang dipaparkan, dari sekitar 3.000 dosen aktif di NTT, baru sekitar 1.000 orang atau sepertiga di antaranya yang telah memiliki kualifikasi pendidikan doktor (S-3).

Guna mengakselerasi peningkatan kualitas SDM perguruan tinggi, Kemdiktisaintek menyediakan berbagai program non-gelar, seperti pra-doktoral daerah afirmasi, talent scouting, bridging program, serta Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris (PKBI).

Program tersebut dilaksanakan melalui skema pembelajaran hibrid dengan menggandeng sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bereputasi riset tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Sri Suning menambahkan bahwa format hibrid ini diterapkan agar dosen tetap mampu menjalankan tanggung jawab akademik di instansi asal tanpa kehilangan hak-haknya, termasuk sertifikasi dan tunjangan profesi.

“Kami ingin memastikan dosen tetap bisa menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi sambil mempersiapkan diri untuk studi lanjut,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV NTT, Adrianus Amheka, menilai bahwa rendahnya proporsi dosen bergelar doktor menjadi tantangan serius bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi di daerah tersebut.

“Fakta bahwa baru sepertiga dosen di NTT yang berkualifikasi doktor merupakan kondisi yang harus segera direspons bersama. Pengembangan kualifikasi akademik melalui jalur beasiswa menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi di NTT,” katanya.

Ia menambahkan bahwa bertambahnya jumlah dosen bergelar doktor akan memperkuat kualitas pembelajaran, kapasitas penelitian, serta membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan hibah riset nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index