Sejarah Nasi Liwet Surakarta, dari Kuliner Keraton Jadi Makanan Rakyat

Sejarah Nasi Liwet Surakarta, dari Kuliner Keraton Jadi Makanan Rakyat
Menelusuri Jejak Nasi Liwet Surakarta, Warisan Budaya Kota Solo [FOTO: NET].

JAKARTA – Di tengah kepungan bermacam kuliner khas Kota Solo, Nasi Liwet Surakarta tampil sebagai salah satu sajian tradisional yang sukses bertahan melampaui rotasi zaman. 

Sajian nasi gurih yang dihidangkan bersama sayur labu siam, suwiran daging ayam, telur, serta siraman areh ini bukan sekadar opsi menu sarapan pagi, melainkan turut merawat rekam jejak sejarah yang amat panjang.

Di balik kesahajaannya, Nasi Liwet Surakarta mempunyai kaitan erat dengan kebudayaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 

Sajian yang kini sangat familier ditemukan pada tiap sudut Kota Solo tersebut sejatinya berakar dari adat tradisi lingkungan istana sebelum lambat laun membaur menjadi bagian dari kehidupan khalayak luas. 

Sampai detik ini, cita rasa otentik maupun tata cara penyajiannya senantiasa dirawat sebagai wujud pelestarian peninggalan budaya yang terus eksis selama beberapa generasi.

Berawal dari tradisi keraton

Historisitas Nasi Liwet Surakarta memang tidak dapat dipisahkan dari dinamika kehidupan di dalam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 

Nasi liwet tergolong sebagai salah satu menu khas istana yang hingga saat ini masih rutin dikonsumsi oleh keluarga kerajaan, utamanya dalam menyambut perhelatan upacara adat maupun ritus keagamaan.

Embrio dari hidangan ini berasal dari nasi gurih yang kerap disertakan dalam aneka ritual internal keraton. Salah satu kebiasaan yang masih terjaga ialah menyajikan nasi gurih pada perayaan Sekaten sebagai rangkaian dari momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam tatanan sosial masyarakat Jawa, nasi liwet pun menempati posisi krusial sebagai sajian wajib dalam tradisi slametan di bulan Mulud. 

Berdasarkan cerita tutur lisan, kemunculan hidangan ini bahkan dikaitkan sebagai bentuk kreasi adaptasi masyarakat Jawa terhadap nasi samin, yakni jenis kuliner yang dipercayai sebagai makanan favorit Nabi Muhammad. 

Lantaran ketersediaan bahan dan proses pengolahannya dinilai sulit diaplikasikan, masyarakat kala itu lantas meramu hidangan serupa yang kemudian dikenal dengan nama nasi liwet.

Dari hidangan keraton menjadi makanan rakyat

Evolusi Nasi Liwet Surakarta mengilustrasikan bagaimana sebuah hidangan yang mulanya lahir dari lingkungan kaum bangsawan perlahan-lahan bertransformasi menjadi konsumsi masyarakat umum.

 Pada periode tampuk pemerintahan Pakubuwono IX (1861–1893), nasi liwet yang disuplai dari wilayah Baki, Sukoharjo, sudah dipercaya menjadi menu santapan reguler bagi para pengrawit atau penabuh gamelan Keraton Surakarta.

Sisa jejak historis tersebut masih kentara hingga hari ini. Mayoritas penjual nasi liwet di Surakarta diketahui berasal dari kawasan Baki, sementara lini usaha kuliner ini terus diwariskan secara turun-temurun sehingga mampu bertahan kokoh sebagai salah satu ikon wisata kuliner andalan Kota Solo.

Keotentikan yang terus dijaga

Di samping nilai sejarahnya, keunggulan Nasi Liwet Surakarta juga bersandar pada formula resep serta teknik memasak konvensional yang tetap dilestarikan. 

Nasi liwet diolah dengan memanfaatkan beras lokal, perasan santan kelapa, daun salam, serta daun pandan guna memicu aroma yang harum khas dan cita rasa yang gurih.

Hidangan ini selanjutnya disandingkan bersama sayur labu siam, suwiran ayam, telur, dan areh putih yang diracik dari santan kental berpadu putih telur. Kombinasi inilah yang menjadi karakter pembeda Nasi Liwet Surakarta dengan varian nasi liwet dari wilayah lain.

Sebagian besar pelaku usaha kuliner tradisional pun terpantau masih setia memakai kayu bakar selama proses memasak. Format penyajiannya juga dipertahankan secara sederhana, yakni dengan memakai pincuk daun pisang ataupun piring yang dilapisi selembar daun pisang.

Warisan budaya yang menghidupkan pariwisata

Rangkaian perjalanan panjang Nasi Liwet Surakarta mendudukkan hidangan ini tidak sekadar sebagai makanan tradisional semata, melainkan juga bagian integral dari identitas kultural masyarakat Kota Solo. 

Sektor kuliner yang sarat akan sejarah, muatan filosofi, dan keaslian cita rasa ini bertumbuh menjadi salah satu pemikat magnet wisata bagi para pelancong.

Bentuk apresiasi atas nilai budayanya juga dibuktikan lewat masuknya Nasi Liwet Surakarta dalam rilis daftar 30 ikon kuliner Indonesia, yang kian mempertegas posisinya sebagai salah satu kekayaan kuliner tradisional paling populer di Tanah Air. 

Bersandingan dengan aneka hidangan khas lainnya, Nasi Liwet Surakarta menggenapi keberagaman kuliner yang lahir dari rentetan sejarah panjang kota tersebut. 

Kehadirannya ikut memperkukuh reputasi Surakarta sebagai kota keplek ilat atau surga kuliner yang senantiasa sukses memikat kunjungan wisatawan dari bermacam daerah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index