HORIZONNEWS.ID — Protokol Pembaruan Perjanjian Perdagangan Bebas China-ASEAN atau CAFTA 3.0 resmi ditandatangani dan kini memasuki tahap prosedur hukum masing-masing pihak. Kesepakatan ini membuka jalan bagi kawasan perdagangan bebas tingkat lanjut yang mencakup ekonomi digital dan ekonomi hijau.
Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang mengumumkan percepatan pemberlakuan Protokol Peningkatan CAFTA 3.0 dalam upacara pembukaan China-ASEAN Expo (CAEXPO) di Kota Nanning, China. Kedua belah pihak sedang menjalani prosedur hukum domestik masing-masing sebelum protokol itu berlaku penuh.
Penandatanganan protokol tersebut menandai babak baru kerja sama dagang kedua kawasan. Ding menyebut CAFTA 3.0 dirancang lebih inklusif dan modern dibandingkan kerangka sebelumnya.
Apa Isi CAFTA 3.0
Negosiasi CAFTA 3.0 dimulai November 2022. Setelah melalui perundingan panjang, protokol pembaruan akhirnya diteken resmi oleh kedua pihak.
"Berkat upaya bersama kedua belah pihak, Protokol Peningkatan CAFTA 3.0 telah ditandatangani secara resmi," kata Ding, dikutip dari Antara.
Protokol ini memperluas cakupan kerja sama ke sektor baru seperti ekonomi digital dan ekonomi hijau. Kedua bidang itu sebelumnya belum diatur sedetail dalam kerangka CAFTA versi lama.
Ding menambahkan, pembentukan kawasan perdagangan bebas tingkat lanjut akan memberi dukungan kelembagaan lebih kuat bagi kerja sama regional. Tingkat keterbukaan di kawasan juga diproyeksikan meningkat.
Dorongan bagi Arus Dagang dan Logistik Kawasan
Bagi pelaku usaha di Indonesia, perluasan CAFTA berpotensi memangkas hambatan tarif dan nontarif pada perdagangan lintas batas. Sektor ekonomi digital yang masuk cakupan protokol membuka peluang kerja sama layanan berbasis teknologi antarnegara.
Pemerintah Indonesia sendiri menaruh perhatian besar pada penguatan kerja sama dengan China. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing.
"Indonesia berharap dapat mempelajari pengalaman keberhasilan China dalam melaksanakan Rencana Lima Tahun ke-15 serta memperkuat kerja sama dengan China di berbagai industri strategis baru," kata Luhut.
Luhut menyebut sektor kecerdasan buatan, bioteknologi, layanan kesehatan, manufaktur maju, dan keuangan digital sebagai bidang yang ingin digarap bersama. Kerja sama pertambangan dan pengembangan sumber daya manusia juga masuk agenda.
Lanjutan Pertemuan Jakarta
Pertemuan Luhut dan Wang Yi di Beijing merupakan kelanjutan dari dialog sebelumnya di Jakarta pada 22 Agustus 2026. Saat itu keduanya menghadiri Dialog Strategis Komprehensif pertama serta Mekanisme Dialog 2+2 antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara.
Wang Yi menilai rangkaian pertemuan bilateral itu meningkatkan pemahaman dan kepercayaan kedua pihak. Ia menyebut China dan Indonesia sebagai representasi perekonomian berkembang.
"Pendalaman komunikasi strategis dan penguatan kerja sama strategis antara kedua negara tidak hanya sejalan dengan kepentingan rakyat kedua negara, tetapi juga memiliki pengaruh penting yang melampaui hubungan bilateral," ujar Wang Yi.
China menyambut baik percepatan pembangunan Indonesia dan bersedia mendorong negara-negara Global South memperkuat diri secara kolektif. Kerja sama di bidang energi, sumber daya mineral, infrastruktur, dan kawasan industri akan dilanjutkan.
Wang Yi juga menyinggung keputusan Presiden Prabowo agar Indonesia bergabung dengan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia. Menurutnya, langkah itu sejalan dengan pengembangan AI yang inklusif dan berorientasi kemaslahatan.
Kedua negara sepakat memperkuat penyelarasan strategi pembangunan. Pertukaran pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari rencana kerja sama ke depan.