Menteri LH

Menteri LH Tinjau Langsung Pengelolaan Sampah Ciamis Jelang Penilaian Adipura Nasional

Menteri LH Tinjau Langsung Pengelolaan Sampah Ciamis Jelang Penilaian Adipura Nasional
Menteri LH Tinjau Langsung Pengelolaan Sampah Ciamis Jelang Penilaian Adipura Nasional

JAKARTA - Keseriusan pemerintah pusat dalam memastikan kualitas pengelolaan lingkungan hidup di daerah tercermin dari langkah Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq yang turun langsung ke lapangan. 

Pada Minggu, ia melakukan inspeksi mendadak ke Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, untuk mengecek sistem pengelolaan sampah yang menjadi bagian penting dalam penilaian Adipura, penghargaan bergengsi bagi kota dan kabupaten terbersih di Indonesia.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Menteri LH bersama jajaran secara langsung menyusuri berbagai titik aktivitas masyarakat, mulai dari pasar hingga kawasan permukiman warga, guna memastikan bahwa sistem pengelolaan sampah yang dinilai di atas kertas benar-benar berjalan di lapangan.

Inspeksi Mendadak Demi Penilaian Objektif

Dalam kunjungannya, Menteri Hanif menegaskan bahwa inspeksi dilakukan tanpa skenario dan tanpa pendampingan kepala daerah agar hasil penilaian tetap objektif. Ia bahkan sengaja melakukan interaksi langsung dengan perangkat desa dan masyarakat tanpa kehadiran bupati.

“Saya cek tadi, kita sama-sama ngecek ke salah satu kepala desa ya, kita coba 'interview' tanpa kehadiran bupati, sengaja kita tidak ingin diikuti bupati supaya kita objektif,” kata dia setelah usai peninjauan pengelolaan sampah di Ciamis.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai pengelolaan sampah, baik dari sisi kebijakan daerah, peran masyarakat, hingga kondisi lapangan yang sesungguhnya.

Nilai Tertinggi Dorong Verifikasi Lapangan

Menteri LH mengungkapkan bahwa Kabupaten Ciamis saat ini memperoleh nilai tertinggi secara nasional dalam sistem penilaian pengelolaan kebersihan dan sampah. Capaian tersebut mendorong kementerian untuk melakukan verifikasi langsung ke lapangan guna memastikan kesesuaian antara data penilaian dan kondisi riil.

Ia menyebutkan bahwa pengecekan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kondisi wilayah, perilaku masyarakat, hingga sistem pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Hasil peninjauan menunjukkan bahwa TPA di Ciamis telah menerapkan sistem “controlled landfill”, sehingga memperoleh nilai relatif tinggi dalam aspek pengelolaan akhir sampah.

“Nah, di Ciamis ini nilainya hari ini paling tinggi, sehingga potensial kepadanya mendapat reward sebagai kota bersih atau dalam prestisius Adipura,” katanya.

Kesadaran Masyarakat Mulai dari Rumah Tangga

Salah satu temuan yang menjadi perhatian Menteri LH adalah tingkat kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah, bahkan di lingkungan dengan kondisi sosial ekonomi terbatas. Ia menilai hal tersebut sebagai indikator penting keberhasilan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa masih ditemukan rumah tidak layak huni, namun penghuninya sudah terbiasa memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

“Rumah yang terkecil pun, yang sangat-sangat sederhana, mohon maaf, itu sudah memilah sampahnya, waktu kita tanya, kenapa? Karena sampahnya bisa dijual, kemudian kita coba cek beberapa desa lain juga, semuanya pilah sampahnya sudah dilakukan,” katanya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan tidak selalu bergantung pada kondisi ekonomi, melainkan pada edukasi dan kebiasaan yang ditanamkan secara konsisten.

Masih Ada PR Sampah Sembarangan

Meski demikian, Menteri LH tidak menutup mata terhadap sejumlah persoalan yang masih ditemukan di lapangan. Dalam inspeksi tersebut, ia juga mendapati adanya masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai, serta membakar sampah.

Ia menilai kondisi tersebut sebagai pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah daerah, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang benar dan ramah lingkungan.

Menurutnya, perilaku membuang dan membakar sampah sembarangan menunjukkan bahwa masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami dampak lingkungan dan kesehatan dari praktik tersebut.

“Mudah-mudahan Ciamis bisa menyelesaikan PR-nya dalam beberapa hari ke depan sebelum penghargaan Adipura diberikan kepada Ciamis,” katanya.

Komitmen Daerah dengan Keterbatasan

Sementara itu, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengakui bahwa pengelolaan sampah di wilayahnya masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Ia menyebut keterbatasan sumber daya menjadi tantangan utama dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang ideal.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap berupaya menjadikan Ciamis sebagai kota terbersih dengan mengandalkan partisipasi aktif masyarakat.

“Kami baru punya mimpi, punya niat, punya keinginan Ciamis menjadi kota bersih, sementara dengan keterbatasan, kami hampir tidak bisa bergerak, kami hanya mengajak, mengimbau, peran serta partisipasi masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi membutuhkan kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat.

Dengan adanya inspeksi langsung dari Menteri LH, pemerintah daerah berharap dapat memperbaiki kekurangan yang ada dan memperkuat sistem pengelolaan sampah ke depan. Kabupaten Ciamis kini berada di persimpangan penting, antara peluang meraih Adipura dan tantangan menyempurnakan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index