HORIZONNEWS.ID — Kementerian Pariwisata menetapkan keselamatan sebagai salah satu program prioritas pengembangan destinasi wisata, bukan sekadar keindahan. Kebijakan itu ditegaskan dalam forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) di Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (15/9), dengan Taman Nasional Gunung Bromo sebagai contoh penanganan krisis.
Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kepariwisataan Kemenpar Fadjar Hutomo menyatakan keselamatan pariwisata telah masuk daftar prioritas Menteri Pariwisata. Menurut dia, destinasi yang dipersepsikan aman akan mendorong wisatawan datang kembali.
"Aspek keamanan menjadi sangat penting. Ibu Menteri Pariwisata menetapkan keselamatan pariwisata menjadi salah satu program prioritas. Intinya, pariwisata tidak hanya soal keindahan, tapi juga keamanan," kata Fadjar dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Persepsi Aman Dorong Kunjungan Ulang
Fadjar menjelaskan persepsi wisatawan menentukan keberlanjutan sebuah destinasi. Destinasi yang dinilai tidak aman karena bencana tak tertangani, kecelakaan, atau kriminalitas berisiko kehilangan kunjungan.
Sebaliknya, destinasi yang dipersepsikan aman memiliki minat kunjungan kembali yang tinggi. Persepsi itu, menurut dia, terbentuk dari pengalaman dan informasi yang beredar di masyarakat.
Bromo Tetap Dipersepsikan Aman Usai Karhutla
Taman Nasional Gunung Bromo sempat ditutup akibat kebakaran hutan dan lahan. Meski begitu, Fadjar menilai wisatawan tetap mempersepsikan Bromo aman untuk dikunjungi.
"Awareness (kepedulian) wisatawan terhadap kelestarian Bromo tinggi. Meski mengalami kebakaran hutan dan lahan, wisatawan mempersepsikan Bromo aman untuk dikunjungi," katanya.
Keamanan, kenyamanan, dan pelestarian alam disebutnya menjadi perhatian utama dalam pengembangan wisata alam Bromo. Tujuannya agar pengelolaan kawasan tetap berkualitas dan berkelanjutan.
Kelalaian Manusia dan Cuaca Ekstrem Picu Kebakaran
Fadjar menyoroti kelalaian manusia sebagai sumber kebakaran berulang. Penggunaan flare untuk foto pre-wedding, puntung rokok yang dibuang sembarangan di area savana, hingga api unggun yang lupa dimatikan menjadi pemicu.
Faktor alam memperparah kondisi. Pada musim kemarau dengan suhu panas ekstrem dan angin kencang, percikan api kecil cepat merambat di padang savana kering sehingga sulit dikendalikan.
Kemenpar mengajak semua pihak meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan ketat terhadap penerapan standar operasional prosedur (SOP) bagi masyarakat maupun wisatawan.
"Kemenpar juga berkolaborasi dengan media mengedukasi wisatawan agar tercipta persepsi positif terhadap destinasi wisata," ujar Fadjar.
Jatim Park Andalkan Simulasi dan Pemantauan 24 Jam
Direktur Jawa Timur Park 3 Suryo Widodo menyebut Kota Batu Malang yang dikelilingi Gunung Bromo, Gunung Arjuna, dan Gunung Welirang secara historis cukup aman dari erupsi maupun banjir bandang.
"Namun demikian, sesuai SOP dan standar Disnaker, Jatim Park secara periodik senantiasa melakukan simulasi kebencanaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan para petugas," katanya.
Manager Marketing & PR Jawa Timur Park Group Titik S. Ariyanto menambahkan penciptaan persepsi positif butuh kerja keras dan upaya sistematis. Pihaknya membentuk tim yang bekerja 24 jam memantau unggahan berisi keluhan, saran, dan hoaks.
"Krisis komunikasi di sosial media sangat luar biasa. Saya punya tim yang harus bekerja keras memantau setiap komentar dan postingan melalui early warning system (sistem peringatan dini) dalam 24 jam. Kalau ada informasi negatif, kita langsung buat rencana dan mengambil tindakan segera," katanya.