HORIZONNEWS.ID — Sikap pasif-agresif sering muncul dalam bentuk yang tampak sopan, padahal menyimpan sindiran atau penolakan terselubung. Pola ini bisa bikin lelah, kesal, dan merasa disalahkan tanpa alasan jelas. Kenali delapan tandanya supaya kamu bisa merespons dengan lebih tenang.
Kamu pernah dibikin bingung oleh orang yang bilang "Enggak apa-apa" tapi sikapnya jelas menunjukkan sebaliknya? Atau punya rekan kerja yang tampak setuju di depan, tapi diam-diam menunda pekerjaan yang sudah diminta?
Perilaku semacam ini masuk kategori pasif-agresif. Menurut Verywell Mind, ini adalah tindakan yang terlihat biasa, netral, bahkan sopan, tetapi sebenarnya menyimpan agresi secara terselubung.
Masalahnya, pola seperti ini sering bikin orang lain lelah dan merasa bersalah tanpa tahu penyebabnya. Karena itu, penting untuk bisa mengenali tandanya sejak awal.
Pujian yang Sebenarnya Menyindir
Menurut Time, pujian dari orang pasif-agresif sering terdengar manis, tetapi ada nada merendahkan di dalamnya.
Contohnya, rekan kerja memuji potongan rambut barumu dengan kalimat, "Wah, rambutmu bagus, aku dulu juga pernah potong model itu waktu kuliah." Terlihat seperti apresiasi, padahal menyelipkan sindiran bahwa gaya rambutmu kurang tren.
Kalimat "Bukan Mau Jahat, Tapi..."
Salah satu tanda paling jelas adalah kalimat yang diawali pembelaan diri, lalu diakhiri komentar menyakitkan. Misalnya, "Aku nggak mau terkesan jahat, tapi..." atau "Aku bukan mau menghakimi, tapi..."
Setelah kata 'tapi', biasanya muncul ucapan menusuk. Pola ini membungkus agresi seolah-olah sebagai kejujuran.
Sabotase Diam-Diam dan Kebiasaan Menunda
Di sinetron, antagonis sering tampak baik di depan tapi menyabotase protagonis di belakang. Dalam kehidupan nyata, versinya lebih halus: sengaja tak mengabari teman soal tenggat pengumpulan tugas, atau membatalkan janji untuk acara penting dengan alasan lupa dan sibuk.
Menurut Your Tango, penundaan pekerjaan juga bisa jadi cara menunjukkan penolakan tanpa berkata langsung. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini merusak kepercayaan dan hubungan kerja.
Merasa Jadi Korban dan Menghindari Jawaban Tegas
Ketimbang mengungkapkan keberatan secara terbuka, orang pasif-agresif sering memosisikan diri sebagai korban. Mereka merasa orang lain terlalu menuntut atau tidak memahami dirinya.
Mereka juga cenderung memberi jawaban membingungkan seperti "terserah", "liat nanti", atau "iya mungkin" tanpa niat jelas. Kalau ditanya ulang, mereka bisa membalikkan keadaan seolah kamu yang salah paham.
Ghosting dan Hitung-Hitungan Jasa
Ghosting atau sengaja tak merespons juga termasuk perilaku pasif-agresif. Saat kesal, mereka memilih diam, menghindar, atau menghilang begitu saja.
Yang tak kalah melelahkan, mereka sering menyimpan daftar jasa dan kesalahan orang lain dalam kepala. Sewaktu-waktu daftar itu diungkapkan untuk menyudutkan.
Yang Perlu Diwaspadai
Bukan berarti semua orang yang diam atau menunda pekerjaan pasti pasif-agresif. Tapi pola yang berulang perlu diwaspadai.
Dengan mengenali tandanya, kamu bisa menjaga batas dan tidak mudah terjebak dalam permainan emosi mereka.