HORIZONNEWS.ID — Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte menjalani sidang langsung pertamanya di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Den Haag, Belanda, Rabu (16/9/2026). Pria 81 tahun itu dihadirkan ke Ruang Sidang III untuk pemeriksaan kesehatan dan kelayakan fisik sebelum persidangan dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan dimulai 30 November mendatang.
Kehadiran Duterte di ruang sidang menandai pertama kalinya ia tampil secara langsung sejak ditangkap di Manila dan ditahan ICC pada Maret 2025. Dalam penampilan perdananya setahun lalu, ia hanya mengikuti proses persidangan melalui sambungan video.
Agenda sidang Rabu ini bersifat administratif: memeriksa kondisi kesehatan Duterte serta menilai apakah ia layak secara fisik mengikuti rangkaian persidangan mendatang. Tim pengacara Duterte menyatakan klien mereka mengalami penurunan kognitif yang memengaruhi kemampuannya menjalani proses hukum.
Tiga Dakwaan Kejahatan terhadap Kemanusiaan
Duterte menghadapi tiga dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait pembunuhan dalam perang melawan kejahatan narkoba periode 2011 hingga 2019. Rentang waktu itu mencakup masa jabatannya sebagai Wali Kota Davao hingga kursi kepresidenan Filipina.
Jaksa ICC menilai kebijakan anti-narkoba yang dijalankan Duterte selama hampir satu dekade memicu pembunuhan di luar proses hukum dalam skala luas. Dakwaan ini menjadi dasar proses peradilan yang akan memasuki tahap pembacaan tuntutan pada 30 November.
Duterte mendekam di tahanan ICC sejak penangkapannya di Manila pada Maret 2025. Sejumlah persidangan sebelumnya ia lewatkan dengan alasan kesehatan.
Penurunan Kognitif Jadi Perdebatan di Ruang Sidang
Pernyataan pengacara soal penurunan kognitif Duterte membuka pertanyaan tentang kelayakannya mengikuti persidangan. Pemeriksaan kesehatan dalam sidang Rabu ini menjadi rujukan majelis hakim untuk menentukan format persidangan selanjutnya.
Duterte adalah ayah dari Wakil Presiden Filipina Sara Duterte. Posisi keluarganya di pemerintahan Filipina menambah dimensi politik pada proses hukum yang berlangsung di Den Haag.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari tim kuasa hukum Duterte maupun kantor kejaksaan ICC mengenai hasil pemeriksaan kesehatan dalam sidang tersebut. Agenda berikutnya tetap mengacu pada jadwal pembacaan dakwaan 30 November.